Strategi Keberlanjutan Lingkungan bagi Perusahaan: Praktik, Metrik, dan Implementasi

Pernahkah Anda memperhatikan berapa banyak listrik yang digunakan kantor setiap hari, berapa banyak sampah yang dihasilkan perusahaan dalam sebulan, atau berapa banyak air yang dibutuhkan untuk menjalankan proses produksi?

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, jika diperhitungkan dalam skala perusahaan, penggunaan energi, konsumsi air, dan pengelolaan limbah dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap lingkungan maupun biaya operasional.

Inilah salah satu alasan mengapa keberlanjutan lingkungan semakin menjadi perhatian dunia bisnis. Perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga perlu memahami bagaimana aktivitas bisnisnya memengaruhi lingkungan.

Dalam konsep Environmental, Social, and Governance (ESG), aspek Environmental membahas bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan dari kegiatan operasionalnya. Mulai dari mengurangi emisi karbon hingga menggunakan sumber daya secara lebih efisien, semuanya menjadi bagian dari upaya membangun bisnis yang lebih bertanggung jawab.

Lalu, bagaimana perusahaan bisa mulai menerapkan strategi keberlanjutan lingkungan? Apa saja yang perlu diukur, dan bagaimana cara mengetahui apakah program yang dijalankan benar-benar memberikan hasil?

Mari kita bahas satu per satu.

1. Apa Itu Keberlanjutan Lingkungan dalam ESG?

Secara sederhana, keberlanjutan lingkungan adalah upaya menjalankan aktivitas bisnis dengan memperhatikan dampaknya terhadap alam dan sumber daya yang digunakan.

Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur yang setiap hari menggunakan listrik untuk menjalankan mesin, air untuk proses produksi, dan bahan baku untuk menghasilkan produk. Jika semua sumber daya tersebut digunakan tanpa pengelolaan yang baik, perusahaan berpotensi menghadapi pemborosan, peningkatan biaya, hingga masalah lingkungan.

Melalui pendekatan Environmental dalam ESG, perusahaan mulai mengevaluasi aktivitas tersebut dan mencari cara untuk memperbaikinya.

Beberapa hal yang biasanya menjadi perhatian meliputi:

  • Emisi karbon: Berapa banyak gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan?

  • Penggunaan energi: Apakah listrik dan bahan bakar digunakan secara efisien?

  • Pengelolaan air: Apakah konsumsi air dapat dikurangi tanpa mengganggu operasional?

  • Pengelolaan limbah: Apakah sampah dan sisa produksi dapat dikurangi atau didaur ulang?

  • Perlindungan lingkungan: Apakah kegiatan bisnis berpotensi merusak ekosistem atau sumber daya alam?

Penerapannya bisa berbeda-beda pada setiap perusahaan. Perusahaan manufaktur mungkin perlu berfokus pada emisi dan limbah produksi, sedangkan perusahaan teknologi dapat memperhatikan konsumsi energi pusat data, penggunaan perangkat elektronik, dan limbah elektronik.

Artinya, tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua perusahaan. Langkah terbaik adalah memahami terlebih dahulu dampak lingkungan yang paling relevan dengan aktivitas bisnis masing-masing.

2. Mengapa Perusahaan Perlu Memperhatikan Lingkungan?

Sebagian perusahaan masih menganggap program lingkungan sebagai kegiatan tambahan yang membutuhkan biaya. Padahal, jika direncanakan dengan baik, pengelolaan lingkungan juga dapat memberikan manfaat langsung bagi bisnis.

Berikut beberapa alasannya.

Mengurangi biaya operasional

Penggunaan listrik yang berlebihan, kebocoran air, dan pemborosan bahan baku dapat meningkatkan biaya operasional.

Misalnya, perusahaan mengganti lampu kantor dengan lampu LED yang lebih hemat energi dan mengoptimalkan penggunaan pendingin ruangan. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi konsumsi listrik secara bertahap.

Jika dilakukan secara konsisten, penghematan tersebut dapat menjadi bagian dari efisiensi biaya perusahaan.

Mengantisipasi risiko bisnis

Perubahan iklim dapat memengaruhi kegiatan bisnis melalui banjir, kekeringan, gangguan distribusi, dan perubahan ketersediaan bahan baku.

Selain itu, perubahan regulasi lingkungan dan tuntutan pelanggan juga dapat memengaruhi cara perusahaan beroperasi.

Dengan memahami risiko sejak awal, perusahaan memiliki kesempatan lebih besar untuk menyiapkan langkah pencegahan sebelum masalah berkembang menjadi gangguan operasional.

Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis

Pelanggan dan mitra bisnis semakin membutuhkan informasi tentang bagaimana perusahaan menjalankan operasionalnya.

Dalam beberapa sektor, perusahaan juga dapat diminta memberikan informasi lingkungan oleh pelanggan korporasi, investor, atau pihak yang mengelola rantai pasok.

Perusahaan yang memiliki data lingkungan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan akan lebih siap menjawab kebutuhan tersebut.

Mendorong inovasi

Upaya mengurangi dampak lingkungan dapat mendorong perusahaan mencari cara baru untuk menghasilkan produk, mengelola material, dan menjalankan operasional.

Contohnya adalah penggunaan kemasan yang lebih mudah didaur ulang, pemanfaatan kembali sisa bahan produksi, atau penerapan sistem digital untuk memantau konsumsi energi.

Dengan demikian, keberlanjutan lingkungan bukan hanya tentang mengurangi dampak negatif, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi dan mengembangkan bisnis.

3. Strategi Keberlanjutan Lingkungan yang Bisa Diterapkan Perusahaan

Setelah memahami manfaatnya, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memulai penerapannya?

Perusahaan tidak harus langsung menjalankan program yang rumit. Langkah awal dapat dimulai dari aktivitas yang paling dekat dengan operasional sehari-hari.

Mengurangi emisi karbon

Emisi karbon menjadi salah satu isu utama dalam keberlanjutan lingkungan. Emisi dapat berasal dari pembakaran bahan bakar, penggunaan listrik, transportasi, dan berbagai aktivitas lain dalam rantai pasok.

Perusahaan dapat mulai dengan mengidentifikasi sumber emisi terbesar. Setelah itu, langkah pengurangan dapat disesuaikan dengan kondisi operasional.

Contohnya:

  • Mengoptimalkan penggunaan kendaraan operasional.

  • Mengurangi perjalanan bisnis yang dapat digantikan dengan pertemuan daring.

  • Meningkatkan efisiensi mesin dan peralatan.

  • Menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan jika memungkinkan.

  • Bekerja sama dengan pemasok untuk mengurangi emisi dalam rantai pasok.

Untuk perusahaan yang ingin mengukur emisi secara lebih terstruktur, Greenhouse Gas Protocol dapat digunakan sebagai salah satu referensi.

Kerangka ini membagi emisi menjadi tiga kategori utama: Scope 1 untuk emisi langsung, Scope 2 untuk emisi dari energi yang dibeli, dan Scope 3 untuk emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai.

Pembagian tersebut membantu perusahaan memahami bahwa sumber emisi tidak selalu berasal dari fasilitas yang mereka miliki sendiri.

Menghemat penggunaan energi

Coba bayangkan sebuah kantor yang tetap menyalakan lampu, komputer, dan pendingin ruangan di area yang sudah tidak digunakan. Jika kebiasaan tersebut terjadi setiap hari, energi yang terbuang dapat menjadi cukup besar.

Perusahaan dapat memulai program efisiensi energi melalui langkah-langkah seperti:

  • Mematikan peralatan ketika tidak digunakan.

  • Menggunakan lampu dan perangkat yang lebih hemat energi.

  • Melakukan pemeliharaan rutin pada mesin dan sistem pendingin.

  • Memantau konsumsi listrik setiap bulan.

  • Melakukan audit energi untuk menemukan sumber pemborosan.

Langkah berikutnya adalah membandingkan konsumsi energi sebelum dan sesudah program diterapkan. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengetahui apakah upaya penghematan benar-benar memberikan hasil.

Mengelola air dengan lebih baik

Air merupakan sumber daya penting bagi banyak jenis usaha, mulai dari perkantoran, hotel, restoran, hingga industri manufaktur.

Pengelolaan air dapat dimulai dengan memeriksa penggunaan air, memperbaiki kebocoran, menggunakan peralatan yang lebih efisien, serta memanfaatkan kembali air untuk kebutuhan yang sesuai.

Pada industri tertentu, perusahaan juga perlu memastikan bahwa air limbah diolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebelum dilepaskan ke lingkungan.

Selain mengukur jumlah air yang digunakan, perusahaan sebaiknya memperhatikan kondisi sumber air di sekitar lokasi operasional. Penggunaan air yang terlihat kecil bagi satu perusahaan dapat memiliki dampak berbeda di wilayah yang mengalami kekurangan air.

Mengurangi sampah dan limbah

Mengelola sampah bukan sekadar menyediakan tempat sampah yang berbeda warna. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana mengurangi sampah sejak awal.

Misalnya, kantor dapat mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menerapkan sistem dokumen digital, dan memisahkan material yang dapat didaur ulang.

Sementara itu, perusahaan manufaktur dapat mengevaluasi proses produksi untuk mengurangi sisa bahan baku dan mencari peluang menggunakan kembali material yang masih layak.

Prinsip yang dapat digunakan adalah mengutamakan pencegahan limbah, kemudian pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sebelum mempertimbangkan pembuangan sebagai pilihan terakhir.

Untuk limbah berbahaya, pengelolaan harus dilakukan sesuai persyaratan teknis dan peraturan yang berlaku.

Memperhatikan pemasok dan rantai pasok

Dampak lingkungan sebuah produk tidak selalu dimulai ketika produk tersebut dibuat di pabrik. Proses pengambilan bahan baku, transportasi, pengemasan, hingga distribusi juga dapat menghasilkan dampak lingkungan.

Karena itu, perusahaan perlu memperhatikan praktik lingkungan para pemasoknya.

Langkah awal dapat dilakukan dengan meminta informasi tentang bahan baku, konsumsi energi, pengelolaan limbah, dan praktik lingkungan yang relevan. Perusahaan juga dapat mempertimbangkan kriteria lingkungan dalam proses pemilihan pemasok.

Pendekatan ini membantu perusahaan melihat dampak lingkungan secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari aktivitas internal.

4. Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan Program Lingkungan?

Menjalankan program lingkungan saja belum cukup. Perusahaan juga perlu mengetahui apakah program tersebut berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan.

Di sinilah metrik dan Key Performance Indicators (KPI) berperan.

KPI lingkungan merupakan indikator yang digunakan untuk memantau penggunaan sumber daya, tingkat emisi, pengelolaan limbah, dan hasil program keberlanjutan.

Berikut beberapa contoh indikator yang dapat digunakan.

AspekContoh KPISatuan
Emisi karbonTotal emisi gas rumah kacatCO₂e
EnergiTotal konsumsi listrikkWh
Energi terbarukanProporsi energi terbarukanPersentase (%)
AirTotal konsumsi airm³
LimbahTotal limbah yang dihasilkanTon
Daur ulangPersentase limbah yang didaur ulangPersentase (%)
Efisiensi produksiKonsumsi energi per unit produkkWh/unit

Daftar tersebut merupakan contoh. Perusahaan dapat memilih indikator yang paling sesuai dengan jenis bisnis dan dampak lingkungannya.

Contoh sederhana pengukuran KPI

Misalnya, sebuah perusahaan menggunakan listrik sebanyak 120.000 kWh dalam satu tahun. Setelah menjalankan program efisiensi energi, konsumsi listrik turun menjadi 108.000 kWh pada periode berikutnya, dengan kondisi operasional yang relatif sebanding.

Pengurangan konsumsi listriknya adalah:

[
\frac{120.000-108.000}{120.000}\times100%=10%
]

Artinya, konsumsi listrik turun sebesar 10% dibandingkan periode dasar.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana KPI dapat membantu perusahaan menilai hasil program secara objektif. Dalam praktiknya, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan perubahan volume produksi, jam operasional, kondisi cuaca, dan faktor lain yang dapat memengaruhi konsumsi energi.

Mengapa baseline dan target itu penting?

Baseline adalah kondisi awal yang digunakan sebagai pembanding. Tanpa baseline yang jelas, perusahaan akan kesulitan menentukan apakah kinerja lingkungannya benar-benar membaik.

Setelah baseline tersedia, perusahaan dapat menetapkan target yang realistis dan memiliki batas waktu.

Sebagai contoh, perusahaan dapat menargetkan pengurangan konsumsi listrik sebesar 10% dalam dua tahun dibandingkan tahun dasar tertentu. Angka ini hanya ilustrasi dan perlu disesuaikan dengan hasil pengukuran serta kondisi operasional perusahaan.

Perusahaan juga sebaiknya memantau angka absolut dan indikator intensitas secara bersamaan. Penurunan konsumsi energi per unit produk, misalnya, tidak selalu berarti total konsumsi energi ikut turun jika volume produksi meningkat.

5. Standar ESG dan Lingkungan yang Perlu Diketahui

Jika perusahaan ingin mengembangkan program keberlanjutan yang lebih terstruktur, terdapat beberapa standar dan kerangka yang dapat dijadikan referensi.

Anda tidak harus mempelajari semuanya sekaligus. Memahami fungsi dasarnya sudah menjadi langkah awal yang baik.

Global Reporting Initiative (GRI)

GRI menyediakan standar untuk membantu organisasi melaporkan dampaknya terhadap ekonomi, lingkungan, dan manusia.

Dalam aspek lingkungan, beberapa topik yang dibahas mencakup energi, air dan efluen, emisi, serta limbah.

Standar GRI dapat membantu perusahaan menyusun informasi keberlanjutan dengan struktur yang lebih jelas dan relevan bagi pemangku kepentingan.

Greenhouse Gas Protocol

Greenhouse Gas Protocol berfokus pada pengukuran dan pelaporan emisi gas rumah kaca.

Kerangka ini berguna bagi perusahaan yang ingin memahami sumber emisinya dan menyusun program pengurangan emisi berdasarkan data.

Pengelompokan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 membantu perusahaan mengidentifikasi apakah emisi berasal dari operasional langsung, energi yang dibeli, atau aktivitas lain dalam rantai nilai.

ISO 14001

ISO 14001 merupakan standar sistem manajemen lingkungan.

Standar ini membantu organisasi membangun proses untuk mengidentifikasi aspek lingkungan, mengelola kewajiban kepatuhan, menetapkan sasaran, dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

ISO 14001 tidak sekadar membahas satu program lingkungan, melainkan pendekatan manajemen yang terstruktur untuk mengelola dampak lingkungan perusahaan.

IFRS S1 dan IFRS S2

IFRS S1 dan IFRS S2 merupakan standar pengungkapan keberlanjutan yang diterbitkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB).

IFRS S1 membahas pengungkapan informasi risiko dan peluang terkait keberlanjutan yang relevan bagi investor, sedangkan IFRS S2 secara khusus berfokus pada informasi terkait iklim.

Penerapan standar tersebut perlu disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di yurisdiksi perusahaan dan kebutuhan pelaporannya.

Penting untuk diingat bahwa setiap kerangka memiliki tujuan berbeda. Perusahaan sebaiknya memilih standar berdasarkan kebutuhan, ukuran organisasi, sektor usaha, dan kewajiban yang berlaku, bukan sekadar mengikuti tren.

6. Langkah Awal Menerapkan Keberlanjutan Lingkungan

Bagi perusahaan yang baru mulai membangun program ESG, banyaknya standar dan indikator mungkin terasa membingungkan.

Cara yang lebih praktis adalah membagi implementasi menjadi beberapa tahap.

Langkah 1: Periksa kondisi saat ini.

Mulailah dengan mengumpulkan data yang sudah tersedia, seperti tagihan listrik, penggunaan air, volume sampah, bahan bakar kendaraan, dan catatan pengelolaan limbah.

Data tersebut dapat membantu perusahaan memahami kondisi awal tanpa harus langsung membangun sistem yang kompleks.

Langkah 2: Tentukan masalah yang paling penting.

Identifikasi sumber pemborosan dan dampak lingkungan yang paling relevan. Perusahaan dengan konsumsi energi tinggi mungkin perlu memprioritaskan efisiensi energi, sedangkan perusahaan dengan banyak sisa produksi dapat berfokus pada pengurangan limbah.

Langkah 3: Tetapkan target yang realistis.

Pilih indikator yang dapat diukur, tentukan baseline, dan tetapkan periode pencapaian. Target harus cukup jelas untuk dievaluasi dan disesuaikan jika terdapat perubahan kondisi yang signifikan.

Langkah 4: Tentukan penanggung jawab.

Program lingkungan akan lebih mudah dijalankan jika setiap kegiatan memiliki pemilik yang jelas. Tim fasilitas dapat mengelola konsumsi energi, bagian operasional dapat menangani limbah produksi, dan manajemen dapat mengawasi target serta anggaran.

Langkah 5: Pantau hasil secara berkala.

Lakukan evaluasi bulanan atau triwulanan sesuai kebutuhan. Bandingkan hasil dengan baseline dan target, kemudian identifikasi penyebab jika pencapaiannya belum sesuai harapan.

Langkah 6: Perbaiki program berdasarkan hasil evaluasi.

Gunakan data untuk menentukan langkah berikutnya. Program yang efektif dapat diperluas, sedangkan program yang belum memberikan hasil perlu dievaluasi kembali.

Dengan pendekatan bertahap, perusahaan dapat membangun fondasi keberlanjutan tanpa harus menerapkan semua inisiatif sekaligus.

7. Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Program Lingkungan

Ada beberapa kesalahan yang dapat membuat program keberlanjutan sulit memberikan hasil nyata.

Hanya berfokus pada kegiatan simbolis

Menanam pohon atau mengadakan kegiatan bersih-bersih dapat menjadi bagian dari program lingkungan. Namun, kegiatan tersebut tidak menggantikan kebutuhan untuk mengelola emisi, energi, air, dan limbah dari aktivitas utama perusahaan.

Program sebaiknya dirancang berdasarkan dampak yang benar-benar relevan.

Menetapkan target tanpa data

Target pengurangan emisi atau konsumsi energi akan sulit dievaluasi jika perusahaan tidak mengetahui kondisi awalnya.

Karena itu, pengumpulan data perlu dilakukan sebelum menentukan target yang akan digunakan sebagai dasar pengukuran.

Mengabaikan rantai pasok

Perusahaan mungkin sudah mengurangi penggunaan listrik di kantor, tetapi masih memiliki dampak lingkungan yang signifikan dari bahan baku dan transportasi.

Memahami rantai nilai membantu perusahaan menentukan prioritas yang lebih menyeluruh.

Membuat klaim lingkungan yang berlebihan

Istilah seperti eco-friendly, green, dan carbon neutral sebaiknya tidak digunakan sembarangan.

Klaim lingkungan perlu didukung bukti yang memadai, memiliki cakupan yang jelas, dan tidak memberikan gambaran yang menyesatkan. Jika perusahaan belum memiliki data yang cukup, lebih baik menjelaskan program dan hasil yang benar-benar sudah dicapai daripada membuat klaim yang terlalu luas.

Kesimpulan

Keberlanjutan lingkungan dalam ESG bukan hanya tentang menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, atau menjalankan kegiatan sosial bertema lingkungan. Lebih dari itu, pendekatan ini membantu perusahaan memahami dampak aktivitas bisnisnya dan mencari cara untuk mengelolanya secara lebih bertanggung jawab.

Langkah awal dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memantau konsumsi listrik, mengurangi pemborosan air, mengelola limbah, dan mengevaluasi penggunaan bahan baku. Setelah data awal tersedia, perusahaan dapat menetapkan KPI, menentukan target, dan mengembangkan program yang lebih terstruktur.

Standar seperti GRI, Greenhouse Gas Protocol, ISO 14001, serta IFRS S1 dan IFRS S2 dapat membantu perusahaan sesuai kebutuhan masing-masing.

Hal terpenting adalah menjalankan program berdasarkan data, mengukur hasil secara konsisten, dan melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.

Dengan strategi yang tepat, keberlanjutan lingkungan tidak harus menjadi beban tambahan bagi bisnis. Justru, pendekatan ini dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, mengantisipasi risiko, dan membangun operasional yang lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.